‘You guys so wild..begitulah ungkapan vokalis After The Sky pada show terakhir mereka yang terakhir di Sabah yang berlangsung di Bahang Roadside Cafe, Penampang. Sebelum itu mereka membuat show di The Wild Sessions dan gig No Hypocrisy Tour oleh Dead Mushroom yang dikendalikan oleh The Rebel Union di Black Box, Suria Sabah.

Band post hardcore dari Singapura ini datang buat kali pertama di Sabah. Dengan atmosfera yang berbeza mereka mungkin mendapat sedikit gambaran terhadap scenster di Sabah khususnya.

Penulis kami sempat berbual dengan After The Sky dan beberapa perkongsian yang penulis ingin muatkan dalam artikel pada kali ini. Penulis ingin meringkaskan beberapa perbualan menjadi perkataan pendek yang mungkin memotivasikan band-band di luar sana.

 

Q : Apa perkara yang membanggakan anda mengenai After The Sky?

Every song is masterpiece for us’

‘We are proud of every thing we do. The most important thing we are still together to this day, not much has changed’.

Q : Pandangan mengenai mendapatkan slot atau show? Terutamanya kepada band baru.

‘Malu, rugi. Ada pepatah mengatakan malu bertanya, sesat jalan. There no shortcut in this industry. Mana boleh form band terus dapat show’.

‘Praktis! Praktis! Praktis!’

‘Expose your band. Keep on working’. Make sure the band is tight. Unique. Be humble’. Do some press kit’. Record your song’.

‘Most band worry about other people doing, what is most important those band who just started is just focus on what you doing. Because some people or band will come up with criticisms, don’t think about what about other people think’.

Q : Bagaimana After The Sky mendapatkan crowd?

‘We have sexy vocalis’. (Joke, haha)

‘We don’t think about it. Orang suka ok, orang tidak suka tidak apa. Tiada paksaan’.

Q : Bagaimana anda mengembangkan band?

‘We have technology nowadays. By online, we try to expose our music as far as possible. Globally’.

Q : Apa pandangan pertama anda terhadap Sabah?

‘Very nice. The people. Ada kejadian ketika show kami di The Wild Sessions, dimana ketika kami menaiki tangga. Semua orang yang berada di tangga bersalam tangan dengan kami. Tapi kami pasti mereka tidak mengenali kami. Itu satu perkara yang menarik. People here is kind’.

‘People are repectful. We love the island too’.

Q : Apa pandangan anda terhadap band Sabah yang pernah kamu nampak?

‘Sebelum show kami di Black Box, kami ada melihat sebuah band yang memiliki vokalis suara menyerupai Kurt Cobain. Itu sangat hebat’.

Q : Selain mendengar musik genre post hardcore, apa music lain yang anda dengar?

‘Hip-hop, John Legend’.

Q : Dengan musik keras, kamu ada masalah dengan masyarakat di Singapura?

‘Itu normal, bunyi bisinglah, lagu saitanlah. But it’s for you to not like it. But don’t judge before you do some research. We respect it.

Q : Adakah Sabah tempat yang akan dikunjungi lagi?

‘We hope we will have another opportunity to perform here again. However, if we come not as a band but we will come as a tourist because we really like this place’.

-end-

 

Begitulah pertemuan penulis dengan After The Sky, sebuah band yang merendah diri dan mempunyai sifat setia kawan yang tinggi. Semoga mereka mendapat pengalaman yang baik untuk dikongsikan kepada rakan-rakan di Singapura.

Ikuti pergerakan mereka dan info-info berkaitan serta mendapatkan stuff daripada band ini di laman sosial mereka.

https://www.facebook.com/AfterTheSky/

Picture Courtesy : The Wild Sessions