The Jethroes sebuah band yang tidak perlu diperkenalkan lagi, sebuah band psychedelic rock n’ roll yang mempunyai aura dan nama yang tersendiri di Sabah khususnya.  Setelah sekian lama menyepi daripada sebarang stuff baru, The Jethroes akhirnya membuka tahun baru dengan single Jesselton Stereoroid. Yang istimewanya single ini mengandungi dua track. Dengar kata ada beberapa injection dalam track yang mereka hasilkan ini.

Penulis menemubual mereka baru-baru, penulis juga sempat mengusik mereka dengan beberapa soalan berkaitan isu yang berlaku dalam scene kita.

Ikuti tembual kami bersama The Jethroes.

 Berapa lama siapkan single?

Untuk singles ni yang berjudul Jesselton Stereoroid kitorang start recording dari akhir tahun lalu. It took us about 2 or 3 month in the process untuk bagi siap 2 track lagu iaitu Jesselton Stereoroid dan Doomsday Blues. Bagi proses full length album pula, semua track masih dalam proses rakaman and to be honest kitorang pun tak pasti bila akan release mungkin hujung tahun atau InshaAllah next year. Untuk full length album kami yang ke-2 ni berjudul B.A.T.H.E.M (Bloom as the Moon) total of 9 to 10 new track.

Recording di mana?

 Untuk sesi recording kali ini kitorang recording di Route96 Studio yang terletak di daerah Papar yang dikendalikan oleh En. Nazrul Bin Materi atau lebih mesra dengan panggilan Tajul oleh kalangan member.

Elemen musik baru yang dimasukkan dalam single track?

Elemen musik yang terdapat dalam singles maupun album baru akan datang mungkin tidaklah berbeza sangat dengan previous album yang sebelum ini. Mungkin kalau dulu dalam album Hellish Dogma lagu kitorang agak “just nice and easy to roll with”. Meaning lagu-lagu yang terdapat dalam album tersebut tidak terlalu keras dan tidak juga terlalu moderate.

Tapi untuk singles baru ini dan album akan datang dari segi musik dan lirik mungkin ada sedikit heavy, dengan elemen dan unsur mysticism, and occultism, plus dengan sentuhan violin yang begitu menusuk sukma oleh saudara Rusli A. dan injeksi unsur Javanese yang terdapat di dalam album baru kami kelak. Kalau bagi pendengar baru mungkin bagi mereka “ini macam musik black metal ja ni…” dan ini memang pendapat ataupun kritik dan feedback yang kami trima selama ini, lagi-lagi dengan segala art-work and lyric yang agak mischievous dan tersirat. Dia kalau dalam isitilah universal musik begini adalah genre Stoner Rock, salah satu sub-genre dari rock ‘n’ roll juga but difference is it’s got more fuzzy and distorted noise, psychedelic, and heavy metal injection and so on while still keeping the hard 60’s 70’s rock ‘n’ roll groove in it…but in the end, itu semua adalah dari view band masing-masing yang main musik camni bagaimana dorang kembangkan musik mengikut corak dan fahaman mereka sendiri.

 Musik konsep dan style begini ada banyak cabang, di KK ni ja pun dan daerah lain seperti Keningau ada beberapa band yang sangat bagus, ada doom, ada sludge dan lain-lain, cuma mungkin penerimaan umum atau public sangat kurang atau masih belum tau yang scene macam ni ada di KK atau Sabah atau mungkin bagi mereka ini adalah genre baru. Actually it’s not a new genre, genre ini suda lama merebak dan bertapak diluar negara apalagi di negara-negara besar seperti Sweden, America, dan Indonesia sendiri and in some many country and places also. Jadi memandangkan ngam timing kitorang kena I.V, ini merupakan peluang bagi kami to let them public know especially right here in Sabah.

Disini kami tidak andaikan dalam singles atau album baru ini kelak sangat-sangat ada kelainan atau ada impak besar jika dibandingkan dengan album kitorang yang sebelum ni, apapun itu semua adalah pendapat dari pendengar masing-masing. Adalah lebih baik mereka beli and let themselves tells the differences. Apa yang kami tau materil-materil kami semua adalah proses experiment and years of learning progression selama berseni atau bermusik.

Budget hasilkan stuff baru ni secara keseluruhan?

Budget keseluruhan untuk singles dan album ini. Rahsia. (Hahaha…!) Tapi memang berbaloi dan fair bagi kitorang.

Cabaran semasa hasilkan material baru?

Cabaran bagi kitorang adalah masa dan faktor jarak. Boleh cakap masa sangat-sangat envy dengan kami jadi memang agak sukar untuk kami adjust masa tuk recording session. Sekarang lagi gitaris kami sorang berada di Australia dan drummer kitorang kerja di Miri. Jadi memang sangat susahla tuk kami dapat masa yang betul-betul cun tuk sesi rakaman sebab tulah untuk full length album ke-2 kami masi tidak pasti samada sempat siap dalam tahun ini or maybe somewhere next year. Tapi walau camna pun proses rakaman tu tetap berjalan walau berjauhan. Untuk gig and show pula kitorang tetap main sekiranya ‘ngam timing’ walaupun hanya bertiga.

Sambutan scenester terhadap album yang lalu?

Sambutan scenester tuk album yang lalu Alhamdulillah memuaskan. Sambutan dari luar dan dalam itu ada walaupun tidaklah sepower atau sehebat band atas panggung. Dan kami mengucapkan ribuan terima kasih kepada yang support!

Harapan terhadap scene khususnya di Sabah?

Hmm…kitorang harap para pendengar, kaki gig, and the public it selves lebih menghargai dengan karya anak-anak seni sendiri tidak kisahlah dia main genre atau musik apa sekalipun. You would not know if the band plays good or not if you keep your eyes blinded by your own ignorance and keeping your ears shut. Pergi tengok band tu main, beli stuff, merch or materil mereka. Kalau tak minat takpa tak payah beli tak payah tengok, just diam-diam kurangkan gosip atau politik dalam scene music lokal sendiri.

Jangan malar cakap takda standard ngan band luar. Band luar boleh jadi power sebab dorang punya local supporter support habis ada hati untuk appreciate band sendiri. Itu sebab kalau ada band kita yang ada peluang main di stage BESAR atau FESTIVAL diluar sana perlu ada ‘special permit/visa’ khusus tuk performer semata-mata tuk main stage besar dorang (not all festival la, some of them) sebab dorang lebih dahulukan dan dewakan band local sendiri bukan senang nak tembus. Organizer, supporters, and thus the listeners out there bagi sedikit hati. Silap hari bulan tahun-tahun yang mendatang sepi suda scene kita sebab band suda bosan dengan benda yang sama drama yang sama. Macam kami ni pun buat materil takda kuota atau target, cukupla kitorang buat pasal tula hobi tula passion, buat lagu, merch, record, pressing, release and it’s a bonus kalau ada orang support dan beli.

Stigma scenester lokal ‘album luar kena beli, album lokal boleh minta free’. Apa pandangan.

Ni boleh jadi penyakit dan mind set jugalah ni. The truth is orang kita (most of them la) memang terlalu memandang sebelah mata dengan karya lokal. Padahal dorang beli pun tidak apalagi dengar. Kami sendiri pun beli juga album-album band luar, but while on the same time kitorang support juga band-band kawan atau band lokal. Tapi kuasa pembeli tu memang dari pendengar. Kalau dorang tak into dengan style or genre tu tidak juga boleh paksa kan. Tapi kalau sudahla lokek tuk kasi keluar duit mau beli stuff atau materil takkanla sampai mau minta FREE baru mau kan? Malu lah sikit.

Band-band buat lagu pressing CD pakai duit bukan guna daun. Sudahlah main show jarang yang ada peluang dapat payment ini sampai stuff pun mau minta free memang takda hati perut la sudah, kalau mau bersistem barter atau trade ok lagi, ada cer lagi. Ubahla sikap suka minta free atau ‘pok silap’ tu it’s not gonna do or give any good or giving any positive feedback in our own small music scene.

And last from us, support your own local talent and brand!

Begitulah sedikit coretan penulis pada kali ini, sebenarnya isu-isu nakal yang dilontarkan kepada mereka bukanlah fokus penulis sebenarnya. Penulis cuma ingin berkongsi stuff mereka yang masih panas lagi, mereka juga membawa sentuhan rakan-rakan muzik dalam 2 track yang mereka hasilkan, hasilnya sudah pasti umphh!

Apa pun, penulis berterima kasih kepada The Jethroes kerana meluangkan masa dan sanggup melontarkan pandangan mereka. Penulis juga tidak sabar memiliki stuff baru mereka.

Kami kongsikan Teaser Jesselton Stereoroid x Doomsday Blues